Warning: Trying to access array offset on false in /home/stiesnub/public_html/wp-content/themes/Divi/epanel/custom_functions.php on line 629
Perwakilan STIESNU Bengkulu Menghadiri Program Peningkatan Kompetensi Dosen Pemula (PKDP) Kementrian Agama – LPDP

Perwakilan STIESNU Bengkulu Menghadiri Program Peningkatan Kompetensi Dosen Pemula (PKDP) Kementrian Agama – LPDP

STIESNU Bengkulu (19/12/2022) – Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (DIKTIS) terus berupaya melakukan peningkatan kompetensi dosen PTKI agar dapat menjamin mutu penyelenggaraan PTKI. Salah satunya, melalui Penyusunan Program Penguatan Kompetensi Dosen Pemula (PKDP) pada Perguruan Tinggi Keagamaan Islam. (lebih…)

Kunjungan Tim Monitoring dan Evaluasi Bantuan Sarana dan Prasarana PTKIS Kopertais Wilayah VII Sumbagsel

STIESNU Bengkulu (Minggu 18/12/2022.) – Kepala Seksi Kemahasiswaan Subdit Sarana, Prasarana dan Kemahasiswaan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kemenag RI, Dr. Amiruddin Kuba, M.A, melaksanakan Monitoring dan Evaluasi program Bantuan Sarana dan Prasarana PTKIS Kopertais Wilayah VII Sumbagsel, bertempat di ruang Auditorium STIESNU Bengkulu, juga dibersamai oleh Sekretaris kopertais Sumbagsel wilayah VII, Dr. KH. Ahmad Zainuri, M.Pd.

Di kesempatan ini juga hadir perwakilan STIT Al Qur’aniyah Manna – Bengkulu Selatan, STIT Makrifatul Ilmi-Bengkulu Selatan, Perwakilan PWNU Bengkulu (Bendum, Evan Stiawan, M.M), Dosen, Staf dan beberapa perwakilan mahasiswa beasiswa KIP STIESNU Bengkulu.

Ketua STIESNU Bengkulu, Dodi Isran M.Pd.Mat membuka acara dan menyampaikan sambutan ucapan terimakasih kepada tim, karena dengan adanya bantuan ini proses pembelajaran menjadi sangat terbantu:

“Alhamdulillah, Di tahun 2021 kami fokus pada pengembangan IT, pemasangan akses point wifi, e-journal, e-learning, dan website, juga sudah ada plan pembuatan siakad hanya tinggal klik apply. Di tahun 2022 kami fokus ke perbaikan dan penambahan beberapa ruang kelas dan sarpras pembuatan aula”. Ungkapnya.

Monitoring dan Evaluasi (Monev) dilakukan untuk menjamin dana Bantuan Sarana dan Prasarana dapat dimanfaatkan dengan tepat sasaran, dan tepat guna. Selain itu, Monev dilaksanakan untuk memperoleh informasi atas implementasi program Bantuan Sarana dan Prasarana berjalan secara optimal. Monev juga dimaksudkan sebagai bahan pengambilan kebijakan dalam pengembangan sarana dan prasarana PTKIS dimasa yang akan datang. Bantuan sarpras untuk PTKIS masih sangat kecil dibandingkan PTKI negeri. Terkait anggaran yang ada maksimal 100 juta untuk PTKIS.

“Untuk PTKIS memang kita tidak bisa menambah lebih banyak. untuk wacana beasiswa KIP ada regulasi Irjen hanya akan mendapatkan tiga kali berturut-turut, dan bantuan sarpras 2 kali berturut turut”. Tutur Kepala Seksi Kemahasiswaan Subdit Sarana, Prasarana dan Kemahasiswaan PTKIS Kemenag RI.

Proses monitoring dan evaluasi tersebut berjalan dengan baik. Dalam kunjungan Monitoring ini juga dibahas tentang kelengkapan data dosen yang memiliki Jabatan Fungsional sampai kewajiban-kewajiban dosen.

Bingkai 2024; Menela’ah Perjalanan Politik Kaum Santri

Segala kejadian-kajadian yang terjadi di dunia ini -nyata maupun maya- adalah bukti nyata dari nilai-nilai yang telah diterangkan dalam Al Qur’an, hikmah-hikmah yang terjadi secara kauniyah terus membawa penguatan bagi umat Islam, tidak berkurang, justru semakin banyak jumlahnya. Sampai saat ini Islam sudah berkembang pesat hingga sampai ke penjuru dunia.

Islam mula-mula dikenalkan di kota Makkah, kota besar padang pasir yang tandus, gersang, kehidupan yang keras, dan jauh dari nilai kemanusiaan, dakwa Islam mengalami kendala yang besar serta tantangan yang luar biasa beratnya, hingga Nabi saw memutuskan untuk hijrah ke Madinah, yang kemudian di Madinah Islam berkembang pesat.

Islam yang berkembang di Madinah tidaklah sefanatik yang di bayangkan banyak orang, manusia di Madinah tidak memihak kepada golongan tertentu, tetapi memihak pada kebenaran, dari siapapun itu. Terlihat jelas dari beberapa literatur hadis Nabi saw yang melarang melakukan persekusi kepada kaum Dzimmi, dan mensetarakan hak-hak mereka dengan yang lain, begitu juga dengan Piagam Madinah yang akhir-akhir ini lebih kerap dikutip oleh beberapa kalangan remaja Islam untuk menjadi penguatan pendapat mereka terhadap keputusan kata Kafir oleh MAU (Majlis Alim Ulama) beberapa bulan lalu, pasalnya bahwa di piagam tersebut istilah kafir masih disebut oleh Nabi saw, meskipun sebetulnya istilah sebagai pembeda identitas keagamaan, bukan identitas sebagai warga negara. Sebagai warga negara Nabi saw jelas menyebutnya sebagai Ro’iyah atau rakyat (HR. Bukhari dan Muslim). Esensi piagam Madina sangatlah menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, yang adil dan beradab. (Baca; Istilah Kafir dan Non Muslim)

Dengan perkembangan Islam yang besar hingga sudah bulat seperti bumi itu, menjadi tantangan bagi kaum Muslim untuk memberikan gagasan-gagasan nilai kebangsaan, dalam artian bahwa Islam tersebar dan masuk ke dalam Cover Society (lingkaran masyarakat; nagarang, hehe), masyarakat punya budaya dan adat. Perkembangan ini harus ditangkap dan harus dipahami, bahwa tersebarnya tidaklah dengan cara satu, melainkan berubah-berubah menurut zamannya. Syekh Fakhruddin Ar Rozy berkata:

ينبغي للعاقل أن يكون حافظا للسانه عارفا بزمانه مقبلا على شأنه

“Hendaknya orang yang berakal menjadi pribadi yang menjaga lisannya, mengetahui perkembangan zamannya, dan menunaikan tugas-tugasnya”. (Kitab Mafatih al Ghaib, Darul Kutub).

Maka, santri tidak sekiranya hanya tau tentang “utawi iki iku” tanpa diimbangi diimbangi dengan pengetahuan kebangsaan yang memadai, dengan jargonnya “hubbul wathan minal iman” menandakan bahwa perjuangan membela tanah air juga bagian dari perjuangan membela syari’at, jika tanah airnya kacau balau, maka sudah barang tentu penerapan syari’at Islam tidak akan berjalan dengan sempurna.

Dan juga termasuk harus sadar bahwa manusia sekarang tidak lagi hidup di zaman khilafah, bukan juga negara Islam (atau negara yang didirikan atas dasar agama tertentu). Semuanya negara Nasional. Oleh karenanya, jika suatu bangsa yang tidak dijunjung maka akan runtuh. Meskipun begitu, menjunjung kebesaran Indonesia haruslah diiringi dengan dan diwarnai dengan ruh-ruh keislaman.

Kita harus mennjunjung tinggi bangsa Indonesia, Nabi saw menjunjung tinggi bangsa Arab, karena beliau berbangsa Arab sehingga menjadi panutan bagi bangsa-bangsa lainnya.

Peran Kaum Sarungan

Semangat nasionalisme para pendahulu santri tidak lah perlu diragukan lagi, Ulama’ dan Masyayikh santri (NU khususnya) sudah kerap menegaskan bahwa santri harus memiliki semangat nasionalisme, semangat membela tanah air.

Santri juga tidak lagi hanya memahami dan menilai persoalan dari sisi “halal dan haramnya” saja yang cenderung jumud dan kolot, tapi juga harus mempertimbangkan sisi mashlahat bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Terlebih lagi pada zaman yang cenderung terjadi konflik saat ini, sensitifitas agama sering menjadi pemicu utama, masalah kesadaran mencintai tanah air menjadi sangat krusial, santri harus menanggapi ini demi kemashlahatan dalam kehidupan beragama, berbangsa dan negara.

Penggerak Kaum Sarungan

Dunia mempunyai ciri khas tersendiri, dimana kita membicarakan santri maka di sana pasti ada Kiai. Santri tanpa Kiai? Bukan santri. Santri yang hebat pasti ada Kiai yang sholih di belakangnya. Apalagi jika pembahasannya adalah pesantren, maka tidak akan terlepas dari tiga pilar, yaitu Kiai, Santri dan Pondok.

Budaya santri yang khas dan menyengat adalah patron klien, ini juga secara tidak langsung justru mempengaruhi pola pikir santri dalam membuat, mempertimbangkan dan memutuskan suatu keputusan. Tradisi sami’na wa atho’na (kami mendengar dan kami ta’at) kepada Kiai ini sangat mengakar, dan ini sangat diperhatikan oleh para santri dalam menuntut ilmu agar mendapatkan barokah dan ilmu yang bermanfaat, atau dengan kata lain bisa juga disebut dengan ta’zhim. Kepercayaan jika tidak ta’at maka akan kuwalat.

Ini justru, menjadi langkah kesuccesan bagi Kiai dalam mendoktrin nilai kebangsaan dan pranata dalam menjaga serta melestarikan nilai-nilai sosial kemasyarakatan kepada para santrinya. Kiai yang digambarkan oleh Gus Dur mempunyai kedudukan absolut dan diakui di tataran pesantren.

Kesimpulan

Namun, kita perlu cermat dalam mengamati (jika) aktor politik adalah Kiai atau tokoh yang mempunyai pengaruh dalam kehidupan masyarakat muslim, dengan penuh keluwesan. Karena pengambilan politik Kiai tidak terbatas pada black and white, melainkan ada keterlibatan pertimbangan rasional yang muncul, dan juga tidak terlepas dari nilai-nilai agama.

Fiqih Kebangsaan
Lingkaran Politik Pesantren

Diatas Kursi Roda, Kiai Pimpinan Pondok Pesantren Al-Um Lulus Ujian Skripsi di STIES-NU Bengkulu Tepat Waktu

STIESNU Bengkulu – Kiai Ali Salam, yang merupakan Rais Syuriah PC NU Bengkulu Utara, sekaligus pimpinan Pondok Pesantren Al Um, dinyatakan lulus ujian Munaqasah Prodi Ekonomi Syariah Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Syariah Nahdlatul Ulama (STIESNU) Bengkulu. Meski telah berusia lanjut, Kiai ini tetap semangat menyelesaikan kewajiban akademiknya.

Dihadapan Tim Penguji yang diketuai Elman Johari, Sekretaris Suharyono, Penguji I Evan Setiawan dan Penguji 2 Dodi Isran, Kiai Ali Salam dapat mempertahankan judul skripsinya yaitu “Implementasi Strategi Marketing Mix Pada Usaha Konter (Studi Kasus Di Bengkulu Utara)”.

“Bukanlah perkara sulit menyelesaikan studi di perguruan tinggi asalkan rajin dan aktif,” kata Kiai Ali Salam.

Menurut Ketua STIESNU Bengkulu Dodi Isran, Kiai Ali Salam menuntaskan studi akademiknya tepat waktu, yakni 4 tahun.

“Beliau menjadi panutan bagi generasi penerus, selain rajin masuk mata kuliah, Kiai Salam juga memberi contoh kuliah tepat waktu,” kata Dodi.

Dodi menambahkan, meski mengikuti ujian diatas kursi roda, Kiai Ali Salam mampu menjabarkan seluruh isi dari skripsinya dengan sangat baik.

STIESNU Bengkulu Selenggarakan PBAK

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Syariah Nahdlatul Ulama (STIESNU) Bengkulu menggelar Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK). Kegiatan diikuti 216 mahasiswa baru dikampus tersebut dan diselenggarakan Sabtu (24/09/2022).
Kegiatan PBAK dihadiri oleh Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Bengkulu Zulkarnain Dali, Ketua DPH STIESNU Bengkulu H Rizkan A. Rahman, Sekretaris PWNU Zubaedi, Ketua STIESNU Bengkulu Dodi Isran. Tampak hadir pula Ketua STIESNU Bengkulu Pasma Candra, Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Fatayat NU, Fatrica Syafri, Pengurus Pergunu, PW Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Bengkulu dan sejumlah undangan lain.

PBAK kali ini mengusung tema “Membentuk Mahasiswa yang Berintelektual Tinggi, Moderat dan Berlandaskan Nilai-nilai Aswaja.

“Alhamdulillah tahun akademik 2022-2023 ini, jumlah mahasiswa baru meningkat drastis,” kata Dodi Isran.

Dikemukakan bahwa hal tersebut bukannya tanpa alasa. Melainkan sejalan dengan meningkatnya akreditasi STIESNU Bengkulu di semua program studi.

“Dengan peningkatan ini, STIESNU Bengkulu akan meluncurkan 4 Prodi baru menuju Institute Agama Islam NU,” ungkap Dodi Isran.

Dengan capaian dan rencana itu, Dodi mengatakan STIESNU Bengkulu menjadi satu-satunya kampus NU di Bengkulu sebagai kawah candradimuka bagi generasi muda NU di Bengkulu. Dan hal tersebut tentu saja diharapkan memberikan rasa bangga kepada warga NU yang ada di kawasan ini.

Dalam kesempatan itu, Ketua PWNU Bengkulu, Zulkarnain Dali mengapresiasi kemajuan kampus. Dia berharap STIESNU terus berkembang dan mampu bersaing bersama ratusan perguruan tinggi NU lainnya. Diakuinya bahwa sejumlah terobosan mendesak unutk dilakukan agar keberadaan kampus terus berkembang dan memberikan jawaban nyata bagi problematika masyarakat.

“Dengan berbagai capaian itu, STIESNU Bengkulu semakin percaya diri menjadi kampus pencetak ekonomi handal dan siap bersaing,” ungkapnya.

Kegiatan pengenalan kampus berlangsung khidmat apalagi dengan hadirnya sejumlah tokoh NU yang demikian dibanggakan.(Majalahaula.id)