BENGKULU — Perjalanan panjang akademik Dr. Elman Johari, M.H.I., Wakil Ketua I Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Syari’ah Nahdlatul Ulama (STIESNU) Bengkulu, akhirnya sampai pada salah satu momentum penting dalam perjalanan intelektualnya, yakni Sidang Promosi Doktor.

Perjalanan tersebut bukanlah proses yang singkat. Di tengah amanahnya dalam menjalankan tugas sebagai pimpinan perguruan tinggi, Elman Johari terus meluangkan waktu untuk menyelesaikan pendidikan doktoral, melakukan penelitian, menyusun disertasi, serta melewati berbagai tahapan akademik yang membutuhkan ketekunan dan konsistensi.

Disertasi yang Relevan dengan Masa Depan PTKIS

Pilihan tema disertasi Elman Johari juga menarik karena menghubungkan tiga persoalan penting: kebijakan institusi, literasi keuangan syariah, dan kemandirian ekonomi PTKIS.

Disertasi yang menjadi buah dari perjalanan akademiknya berjudul:

“Pengaruh Kebijakan Institusi dan Literasi Keuangan Syari’ah Terhadap Kemandirian Ekonomi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS): Pendekatan Resource-Based View (RBV) dan Maqashid Syari’ah di Provinsi Bengkulu.”

Pendekatan Resource-Based View (RBV) memberikan perspektif bahwa kekuatan dan sumber daya internal organisasi dapat menjadi dasar dalam membangun keunggulan dan keberlanjutan institusi. Sementara pendekatan Maqashid Syariah memberikan landasan nilai agar pembangunan ekonomi perguruan tinggi tidak hanya berorientasi pada aspek material, tetapi juga memperhatikan tujuan dan kemaslahatan yang lebih luas.

Tema tersebut menunjukkan perhatian Elman Johari terhadap persoalan strategis yang dihadapi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS), khususnya bagaimana perguruan tinggi dapat membangun kemandirian ekonomi dengan mengoptimalkan kekuatan dan sumber daya yang dimiliki.

Pendekatan Resource-Based View (RBV) dalam penelitian tersebut memberikan perspektif mengenai pentingnya pengelolaan sumber daya internal institusi sebagai kekuatan strategis. Sementara perspektif Maqashid Syari’ah memberikan dimensi nilai agar pengembangan kemandirian ekonomi tetap berada dalam koridor prinsip-prinsip syariah dan kemaslahatan.

Dengan demikian, penelitian ini berpotensi memberikan kontribusi pemikiran bagi pengembangan model pengelolaan PTKIS yang lebih mandiri, berkelanjutan, dan tetap berorientasi pada nilai-nilai Islam.

Perjalanan yang Tidak Mudah

Meraih gelar doktor bukanlah perjalanan singkat. Di balik capaian tersebut terdapat proses panjang yang harus dilalui seorang mahasiswa doktoral, mulai dari perumusan gagasan penelitian, kajian literatur, penyusunan proposal, penelitian lapangan, pengolahan dan analisis data, penulisan disertasi, hingga menghadapi berbagai tahapan ujian akademik.

Perjalanan tersebut menjadi semakin menantang karena Elman Johari juga menjalankan amanah sebagai Wakil Ketua I STIESNU Bengkulu.

Dengan dua tanggung jawab tersebut, perjalanan akademiknya menjadi bukti bahwa tugas kelembagaan dan pengembangan kapasitas akademik dapat berjalan secara beriringan.

Dihadapkan pada Tim Penguji dan Promotor

Dalam proses akademiknya, Elman Johari mendapatkan bimbingan dan masukan dari sejumlah akademisi yang memiliki kepakaran di bidangnya.

Tim akademik yang tercantum dalam dokumen terkait terdiri atas:

  1. Prof. Dr. H. Khairudin, M.Ag — Ketua Penguji / Promotor
  2. Dr. Fatrica Syafri, M.Pd —  Sekretaris Penguji
  3. Prof. Dr. Asnaini, M.A. — Co-Promotor I
  4. Dr. Miti Yarmunida, M.Ag. — Co-Promotor II
  5. Prof. Dr. Nurul Hak, M.A. — Penguji I
  6. Dr. Hj. Fatimah, M.A. — Penguji II
  7. Romi Aditio Setiawan, M.A., Ph.D. — Penguji III
  8. Dr. Dodi Isran, M.Pd.Mat. — Penguji Eksternal

Kehadiran para akademisi tersebut menjadi bagian penting dalam proses penguatan kualitas akademik disertasi yang dihasilkan.

Dari Ruang Kuliah Menuju Ruang Promosi Doktor

Bagi seorang akademisi, memperoleh gelar doktor bukan sekadar tambahan gelar di belakang nama. Di baliknya terdapat proses panjang: membaca literatur, merumuskan masalah penelitian, melakukan pengumpulan dan analisis data, menyusun disertasi, menghadapi berbagai masukan akademik, melakukan revisi, hingga mempertanggungjawabkan hasil penelitian di hadapan tim penguji.

Perjalanan tersebut menjadi semakin bermakna ketika pendidikan doktoral tidak berhenti pada pencapaian pribadi, tetapi diarahkan untuk memberikan manfaat bagi institusi dan masyarakat.

Bagi STIESNU Bengkulu, pencapaian akademik Elman Johari juga menjadi bagian dari penguatan sumber daya manusia perguruan tinggi. Kehadiran doktor baru di lingkungan pimpinan kampus diharapkan semakin memperkuat budaya akademik, penelitian, publikasi, serta pengembangan kelembagaan.

Sidang Promosi Doktor Menjadi Puncak Perjuangan

Puncak dari perjalanan tersebut adalah Sidang Promosi Doktor yang dilaksanakan pada Jumat, 7 Agustus 2026, bertempat di Ruang Promosi Doktor Lantai 3 Gedung Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu.

Momentum tersebut bukan hanya menjadi agenda akademik bagi Elman Johari, tetapi juga menjadi kebanggaan bagi keluarga besar STIESNU Bengkulu.

Perjuangan meraih gelar doktor menjadi bukti bahwa pengembangan diri, pengabdian kepada institusi, dan perjuangan akademik dapat berjalan secara bersamaan.

Bukan Sekadar Gelar

Gelar doktor nantinya diharapkan tidak hanya menjadi pencapaian personal bagi Elman Johari, tetapi juga menjadi modal intelektual baru bagi STIESNU Bengkulu.

Penelitian yang diangkat memiliki relevansi dengan kebutuhan PTKIS saat ini, terutama dalam menghadapi tantangan kemandirian kelembagaan, pengelolaan sumber daya, literasi keuangan syariah, serta pembangunan ekonomi perguruan tinggi yang berkelanjutan.

Dengan demikian, perjuangan tersebut diharapkan dapat bermuara pada kontribusi yang lebih besar bagi pengembangan pendidikan tinggi Islam, ekonomi syariah, dan kemajuan PTKIS di Provinsi Bengkulu.

Dari ruang akademik lahir sebuah perjuangan. Dari perjuangan lahir sebuah karya. Dan dari karya diharapkan lahir manfaat bagi institusi dan masyarakat.

Dari perjuangan panjang, lahir sebuah pencapaian. Dari ilmu, lahir pengabdian.

Selamat dan sukses Dr. Elman Johari, M.H.I. Semoga langkah menuju gelar doktor menjadi awal dari pengabdian dan kontribusi yang semakin luas bagi dunia pendidikan tinggi.