oleh Nurul Hidayah | Agu 18, 2026 | Berita
Bengkulu, 18 Agustus 2026 — Ketua STIESNU Bengkulu menjadi pemateri dalam podcast yang diselenggarakan oleh Kantor KPU Kota Bengkulu, Selasa (18/8/2026), dengan mengangkat tema “Dari Kampus untuk Demokrasi: Mendorong Partisipasi Mahasiswa dalam Pemilu dan Pemilihan.”
Podcast ini menjadi ruang edukasi dan diskusi untuk memperkuat literasi demokrasi di kalangan generasi muda, khususnya mahasiswa. Pembahasan diarahkan pada pentingnya mahasiswa tidak hanya hadir sebagai pemilih, tetapi juga menjadi bagian aktif dalam membangun demokrasi yang sehat, kritis, dan bermartabat.
Dalam pemaparannya, Ketua STIESNU Bengkulu menekankan bahwa kampus memiliki posisi strategis sebagai ruang pendidikan demokrasi. Mahasiswa perlu dibekali kemampuan untuk memahami isu publik, mengenali visi dan program peserta pemilu, memeriksa informasi, serta menentukan pilihan berdasarkan pertimbangan yang rasional.
“Demokrasi bukan hanya tentang datang ke TPS. Demokrasi adalah tentang bagaimana kita berpikir, menentukan pilihan, menghargai perbedaan, dan ikut mengawal proses demokrasi.”
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi, terutama di tengah derasnya arus informasi digital.
“Jangan biarkan algoritma memilih untuk kita. Mahasiswa harus mampu membedakan mana informasi, mana opini, dan mana disinformasi.”
Mahasiswa Bukan Sekadar Pemilih
Menurutnya, mahasiswa memiliki peran penting karena berada pada posisi strategis sebagai kelompok yang memiliki pengetahuan, akses informasi, kemampuan berpikir kritis, sekaligus pengaruh di tengah masyarakat.
Karena itu, mahasiswa didorong untuk tidak menjadi pemilih yang sekadar ikut-ikutan, tetapi menjadi pemilih yang memahami siapa yang dipilih dan apa yang diperjuangkan.
“Jangan memilih karena viral. Jangan memilih karena ikut-ikutan. Kenali visi, pahami program, lihat rekam jejak, dan tentukan pilihan dengan kesadaran.”

Selain itu, ia menegaskan pentingnya menjaga demokrasi dari praktik politik uang.
“Suara kita bukan barang dagangan. Satu suara mungkin hanya diberikan sekali, tetapi dampaknya bisa menentukan arah kebijakan dan kehidupan masyarakat dalam waktu yang panjang.”
Kampus sebagai Laboratorium Demokrasi
Lebih lanjut, Ketua STIESNU Bengkulu menyampaikan bahwa kampus harus menjadi laboratorium demokrasi yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berdiskusi, berbeda pendapat, menguji gagasan, dan belajar menyampaikan kritik secara konstruktif.
Kampus, menurutnya, tidak boleh mengarahkan mahasiswa untuk memilih kandidat atau kelompok politik tertentu. Sebaliknya, kampus harus membangun kualitas pemilih dan budaya demokrasi yang sehat.
Partisipasi mahasiswa juga tidak berhenti setelah menggunakan hak pilih di TPS. Mahasiswa dapat terus berperan dengan mengawal kebijakan publik, menyampaikan kritik, melakukan edukasi kepada masyarakat, serta menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan bangsa.
“Memilih adalah awal, bukan akhir. Setelah memilih, mahasiswa harus tetap hadir untuk mengawal demokrasi.”
Kegiatan podcast tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bahwa demokrasi membutuhkan partisipasi seluruh elemen masyarakat, termasuk perguruan tinggi dan generasi muda.
Melalui tema “Dari Kampus untuk Demokrasi”, STIESNU Bengkulu menegaskan komitmennya untuk terus mendorong lahirnya mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran kebangsaan, kemampuan berpikir kritis, serta tanggung jawab dalam kehidupan demokrasi.
oleh Nurul Hidayah | Agu 17, 2026 | Berita
Bengkulu, 17 Agustus 2026 — Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di STIESNU Bengkulu berlangsung khidmat dan penuh semangat kebangsaan. Upacara yang digelar di Lapangan Merdeka STIESNU Bengkulu, Senin (17/8/2026), diikuti seluruh civitas akademika dengan mengenakan beragam pakaian adat Nusantara sebagai simbol keberagaman dalam satu kesatuan Indonesia.
Upacara tersebut dihadiri Pendiri STIESNU Bengkulu Prof. Dr. Sirajuddin, M.Ag., para Wakil Ketua I, II, dan III, Ketua dan Sekretaris Senat, para Dekan, Ketua Program Studi, dosen, tenaga kependidikan, Badan Otonom Nahdlatul Ulama, serta mahasiswa-mahasiswi STIESNU Bengkulu.
Dalam amanatnya sebagai Inspektur Upacara, Ketua STIESNU Bengkulu menegaskan bahwa kemerdekaan bukan sekadar warisan sejarah, melainkan amanah yang harus diisi melalui kerja nyata sesuai peran masing-masing.
“Jika dahulu para pahlawan berjuang dengan senjata, maka hari ini kita berjuang dengan ilmu pengetahuan, integritas, kompetensi, kreativitas, dan pengabdian kepada masyarakat,” tegasnya.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam menyongsong masa depan Indonesia. Karena itu, civitas akademika tidak boleh hanya menjadi bagian dari lingkungan kampus, tetapi harus mampu mewakili kebutuhan, aspirasi, dan persoalan masyarakat.
“Kampus tidak boleh hanya menjadi tempat memperoleh gelar akademik. Kampus harus menjadi tempat lahirnya gagasan, karakter, kepemimpinan, dan solusi bagi persoalan bangsa,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa ilmu yang dikembangkan di STIESNU Bengkulu harus mampu keluar dari ruang kelas dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Ilmu yang kita miliki harus turun dari ruang kelas menuju masyarakat. Riset harus menjawab kebutuhan daerah. Pengabdian harus menghadirkan manfaat,” katanya.
Dalam konteks tersebut, mahasiswa juga didorong untuk melihat kemerdekaan sebagai kesempatan untuk belajar, berkarya, dan memberikan kontribusi. Generasi muda tidak cukup hanya bertanya tentang apa yang dapat diperoleh dari Indonesia, tetapi harus berani bertanya:
“Apa yang dapat saya berikan untuk Indonesia?”
Semangat tersebut semakin kuat melalui penggunaan pakaian adat Nusantara dalam upacara. Bagi STIESNU Bengkulu, keberagaman budaya yang hadir dalam satu ruang akademik merupakan gambaran bahwa perbedaan suku, budaya, dan daerah dapat menjadi kekuatan ketika disatukan oleh semangat kebangsaan.
Civitas akademika sebagai bagian dari masyarakat diharapkan mampu menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan rakyat, antara kampus dan pembangunan daerah, serta antara generasi hari ini dan masa depan Indonesia.

Ketua STIESNU Bengkulu juga mengingatkan bahwa kemajuan zaman, teknologi, kecerdasan buatan, perubahan ekonomi, hingga tantangan moral membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual.
“Kita membutuhkan generasi yang mampu bersaing secara global tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia. Generasi yang maju tanpa melupakan akar budaya, menguasai teknologi tanpa kehilangan kemanusiaan.”
Peringatan HUT ke-81 RI di STIESNU Bengkulu pun menjadi momentum untuk memperkuat komitmen perguruan tinggi dalam melahirkan sumber daya manusia yang unggul, berintegritas, berkarakter, religius, berbudaya, dan memiliki kepedulian terhadap masyarakat.
Semangat tersebut dirangkum dalam pesan:
Dari Bengkulu, kita belajar.
Dari kampus, kita berkarya.
Dari ilmu, kita mengabdi.
Untuk masyarakat, kita hadir.
Untuk Indonesia, kita berkontribusi.
Melalui momentum kemerdekaan ini, STIESNU Bengkulu meneguhkan bahwa kampus bukan hanya tempat belajar tentang Indonesia, tetapi juga tempat mempersiapkan generasi yang mampu bekerja untuk Indonesia.
Kemerdekaan adalah amanah.
Ilmu adalah tanggung jawab.
Masyarakat adalah ruang pengabdian.
Dan masa depan Indonesia adalah tanggung jawab kita bersama.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Dari Bengkulu untuk Indonesia.
Bhinneka Tunggal Ika.
Indonesia Maju!
oleh Nurul Hidayah | Agu 17, 2026 | Berita
Bengkulu, 17 Agustus 2026 — Ada yang berbeda dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di STIESNU Bengkulu. Upacara yang digelar di Lapangan Merdeka STIESNU Bengkulu, Senin (17/8/2026), berlangsung khidmat sekaligus semarak dengan kehadiran civitas akademika yang mengenakan beragam pakaian adat Nusantara.
Keberagaman busana adat yang dikenakan pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa bukan sekadar bagian dari kemeriahan peringatan kemerdekaan. Ragam pakaian tersebut menjadi simbol bahwa Indonesia dibangun dari keberagaman budaya yang disatukan dalam satu identitas: Indonesia.
Kegiatan tersebut dihadiri Pendiri STIESNU Bengkulu Prof. Dr. Sirajuddin, M.Ag., para Wakil Ketua I, II, dan III, Ketua dan Sekretaris Senat, para Dekan, Ketua Program Studi, dosen, tenaga kependidikan, Badan Otonom Nahdlatul Ulama, serta seluruh civitas akademika dan mahasiswa STIESNU Bengkulu.
Dalam amanatnya, Ketua STIESNU Bengkulu menekankan bahwa kemerdekaan merupakan amanah yang harus dijaga oleh setiap generasi. Salah satu cara menjaganya adalah dengan merawat persatuan di tengah keberagaman.
“Indonesia tidak dibangun oleh satu kelompok, satu daerah, atau satu golongan. Indonesia dibangun oleh keberagaman yang disatukan oleh satu cita-cita. Karena itu, mari kita rawat persatuan. Jadikan perbedaan sebagai kekuatan untuk saling melengkapi.”

Pesan tersebut semakin terasa melalui keberagaman pakaian adat yang dikenakan dalam upacara. Berbagai identitas budaya hadir dalam satu lapangan, berdiri bersama di bawah Sang Merah Putih, menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah sekat, melainkan kekuatan bangsa.
Bagi STIESNU Bengkulu, semangat kebudayaan tersebut sejalan dengan nilai Bhinneka Tunggal Ika—berbeda-beda tetapi tetap satu. Kebudayaan Nusantara tidak hanya menjadi warisan yang harus dikenang, tetapi juga identitas yang harus dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ketua STIESNU Bengkulu juga mengajak mahasiswa untuk menjadi generasi yang mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri.
“Kita membutuhkan generasi yang mampu bersaing secara global tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia. Generasi yang maju tanpa melupakan akar budaya, menguasai teknologi tanpa kehilangan kemanusiaan.”
Peringatan HUT ke-81 RI di STIESNU Bengkulu akhirnya bukan hanya menjadi momentum mengenang perjuangan para pahlawan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kemerdekaan harus dirawat melalui persatuan, kebudayaan, pendidikan, dan pengabdian.
Dari berbagai pakaian adat, satu semangat yang disatukan.
Dari berbagai budaya, satu identitas yang dijaga.
Nusantara boleh beragam, tetapi Indonesia tetap satu.
Dari Bengkulu untuk Indonesia.
Berbeda budaya, satu Indonesia.
Bhinneka Tunggal Ika.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Jayalah Indonesia!
oleh Nurul Hidayah | Agu 17, 2026 | Berita
Bengkulu, 17 Agustus 2026 — Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi dan Bisnis Nahdlatul Ulama (STIESNU) Bengkulu melaksanakan upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada Senin, 17 Agustus 2026, di Lapangan Merdeka STIESNU Bengkulu.
Upacara berlangsung khidmat dan penuh semangat kebangsaan. Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh keluarga besar STIESNU Bengkulu, mulai dari unsur pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, Badan Otonom Nahdlatul Ulama, hingga mahasiswa dan mahasiswi.
Turut hadir Pendiri STIESNU Bengkulu Prof. Dr. Sirajuddin, M.Ag., para Wakil Ketua I, II, dan III, Ketua dan Sekretaris Senat, para Dekan, Ketua Program Studi, para dosen, tenaga kependidikan, Badan Otonom Nahdlatul Ulama, seluruh civitas akademika, serta mahasiswa-mahasiswi STIESNU Bengkulu.
Dalam amanatnya selaku Inspektur Upacara, Ketua STIESNU Bengkulu mengajak seluruh civitas akademika untuk tidak memaknai kemerdekaan sekadar sebagai momentum seremonial, tetapi sebagai sebuah amanah yang harus diisi, dijaga, dan dilanjutkan oleh setiap generasi.
“Kemerdekaan adalah amanah. Dan setiap generasi memiliki tugas untuk mengisi, menjaga, serta melanjutkan kemerdekaan tersebut sesuai dengan zamannya. Jika dahulu para pahlawan berjuang dengan senjata, maka hari ini kita berjuang dengan ilmu pengetahuan, integritas, kompetensi, kreativitas, dan pengabdian kepada masyarakat,” tegasnya dalam amanat upacara.
Menurutnya, 81 tahun kemerdekaan Indonesia merupakan perjalanan panjang yang dibangun melalui pengorbanan, keberanian, persatuan, dan doa para pendahulu bangsa. Karena itu, generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk meneruskan perjuangan tersebut melalui bidang dan peran masing-masing.
Kampus Harus Menjadi Tempat Lahirnya Gagasan dan Solusi
Ketua STIESNU Bengkulu menegaskan bahwa sebagai lembaga pendidikan tinggi, STIESNU Bengkulu memiliki tanggung jawab besar dalam mengisi kemerdekaan.
Ia menekankan bahwa kampus tidak boleh hanya menjadi tempat untuk memperoleh gelar akademik, tetapi harus menjadi ruang lahirnya gagasan, karakter, kepemimpinan, dan solusi bagi berbagai persoalan bangsa.
“Karena itu, saya mengajak seluruh civitas akademika STIESNU Bengkulu untuk menjadikan momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sebagai momentum memperkuat komitmen kita dalam membangun sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, berintegritas, religius, dan memiliki kepedulian terhadap masyarakat,” ujarnya.
Kepada para dosen dan tenaga kependidikan, Ketua STIESNU Bengkulu mengingatkan bahwa perjuangan mencerdaskan kehidupan bangsa tidak cukup hanya dengan menyampaikan ilmu pengetahuan.
Menurutnya, pendidikan juga harus menghadirkan keteladanan, etika, tanggung jawab, dan semangat pengabdian.
Sementara kepada mahasiswa, ia menegaskan bahwa generasi muda merupakan bagian penting dalam menentukan wajah Indonesia di masa depan.
“Kalian adalah generasi yang akan menentukan wajah Indonesia di masa depan. Jangan jadikan kemerdekaan sebagai alasan untuk bermalas-malasan. Jadikan kemerdekaan sebagai kesempatan untuk belajar lebih keras, berkarya lebih luas, dan memberikan manfaat yang lebih besar,” pesannya.
Ia kemudian mengajak mahasiswa untuk mengubah cara pandang terhadap kemerdekaan. Bukan hanya mempertanyakan apa yang dapat diperoleh dari Indonesia, tetapi juga apa yang dapat diberikan kepada bangsa.
“Jangan hanya bertanya: Apa yang akan saya dapatkan dari Indonesia? Tetapi tanyakan kepada diri kita: Apa yang dapat saya berikan untuk Indonesia?” tegasnya.
Menghadapi Tantangan Zaman dengan Ilmu dan Nilai

Dalam amanatnya, Ketua STIESNU Bengkulu juga menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.
Kemajuan teknologi, perkembangan kecerdasan buatan, perubahan ekonomi global, persoalan lingkungan, kesenjangan sosial, hingga tantangan moral dan karakter generasi muda membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga memiliki kekuatan moral dan spiritual.
“Kita membutuhkan generasi yang mampu bersaing secara global tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia. Generasi yang maju tanpa melupakan akar budaya. Generasi yang menguasai teknologi tanpa kehilangan kemanusiaan,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya melahirkan generasi yang memiliki cita-cita besar sekaligus tetap rendah hati untuk mengabdi kepada masyarakat.
“Inilah bentuk perjuangan kita hari ini.”
STIESNU Bengkulu Dorong Ilmu Turun ke Masyarakat
Lebih lanjut, Ketua STIESNU Bengkulu mengajak seluruh civitas akademika untuk menjadikan kampus sebagai bagian dari ekosistem pembangunan daerah.
Menurutnya, ilmu pengetahuan yang dikembangkan di lingkungan perguruan tinggi harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Ilmu yang kita miliki harus turun dari ruang kelas menuju masyarakat. Riset harus menjawab kebutuhan daerah. Pengabdian harus menghadirkan manfaat. Dan setiap lulusan STIESNU Bengkulu harus memiliki semangat: Belajar untuk tumbuh, berkarya untuk bangsa, dan mengabdi untuk masyarakat,” ungkapnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di lingkungan STIESNU Bengkulu diarahkan tidak berhenti pada seremoni, tetapi diterjemahkan menjadi semangat untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, pengabdian, serta kontribusi nyata bagi Bengkulu dan Indonesia.
Merawat Persatuan dalam Keberagaman
Dalam amanatnya, Ketua STIESNU Bengkulu juga mengajak seluruh keluarga besar kampus untuk terus merawat persatuan di tengah keberagaman.
Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak dibangun oleh satu kelompok, satu daerah, maupun satu golongan, melainkan oleh keberagaman yang dipersatukan oleh cita-cita bersama.
“Jangan biarkan perbedaan menjadi alasan untuk saling menjauh. Jadikan perbedaan sebagai kekuatan untuk saling melengkapi. Sebagaimana semboyan bangsa kita, Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda, tetapi tetap satu Indonesia.”
Di penghujung amanatnya, Ketua STIESNU Bengkulu mengajak seluruh civitas akademika untuk memaknai kemerdekaan melalui kerja nyata.
“Indonesia tidak membutuhkan generasi yang hanya pandai berbicara tentang masa depan. Indonesia membutuhkan generasi yang mau bekerja untuk mewujudkan masa depan,” tegasnya.
Ia berharap STIESNU Bengkulu dapat terus tumbuh sebagai perguruan tinggi yang berprestasi, berintegritas, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan Bengkulu maupun Indonesia.
Semangat tersebut kemudian dirangkum dalam pesan yang menjadi penegasan arah kontribusi STIESNU Bengkulu:
“Dari Bengkulu, kita belajar.
Dari kampus, kita berkarya.
Dari ilmu, kita mengabdi.
Untuk Indonesia, kita berkontribusi.”
Menutup amanatnya, Ketua STIESNU Bengkulu kembali mengingatkan seluruh civitas akademika bahwa kemerdekaan merupakan warisan sekaligus amanah yang harus dipertanggungjawabkan oleh setiap generasi.
“Kemerdekaan adalah warisan. Kemerdekaan adalah amanah. Dan masa depan Indonesia adalah tanggung jawab kita bersama.”
Upacara kemudian ditutup dengan seruan semangat kebangsaan, “Dari Bengkulu untuk Indonesia. Terus Melaju, Indonesia! Indonesia Maju! Merdeka! Merdeka! Merdeka!”
Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di STIESNU Bengkulu menjadi momentum untuk meneguhkan kembali komitmen seluruh civitas akademika dalam melanjutkan perjuangan para pahlawan melalui pendidikan, ilmu pengetahuan, integritas, persatuan, karya, dpengabdian kepada masyarakat.
oleh Nurul Hidayah | Agu 14, 2026 | Berita
Bengkulu, 14 Agustus 2026 — Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi dan Bisnis Nahdlatul Ulama (STIESNU) Bengkulu melaksanakan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula STIESNU Bengkulu pada Jumat, 14 Agustus 2026.
Penandatanganan kerja sama ini dihadiri langsung oleh Rektor ISIF Cirebon, K.H. Marzuki Wahid, sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan kelembagaan dan membangun sinergi dalam pengembangan pendidikan tinggi.
Dari pihak STIESNU Bengkulu, kegiatan dihadiri oleh Ketua STIESNU Bengkulu, Dr. Subhan, S.Ag., M.H.I., Wakil Ketua I Dr. Elman Johari, M.H., Wakil Ketua II Suharyono, M.E., Wakil Ketua III Yudha S. Kurniawan, M.Pd., serta Ketua Senat STIESNU Bengkulu Dr. Dodi Isran, M.Pd., MAT. Turut hadir pula seluruh dosen dan tenaga kependidikan STIESNU Bengkulu.

Dalam suasana yang penuh kekeluargaan dan semangat kolaborasi, penandatanganan MoU menjadi momentum penting bagi kedua institusi untuk membuka ruang kerja sama yang lebih luas. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mendukung penguatan kualitas pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, kegiatan akademik, penelitian, serta berbagai program kelembagaan lainnya.
Kehadiran Rektor ISIF Cirebon, K.H. untukMarzuki Wahid, sekaligus memberikan nilai strategis dalam kegiatan tersebut. Sinergi antara STIESNU Bengkulu dan ISIF Cirebon diharapkan tidak berhenti pada penandatanganan dokumen kerja sama, tetapi dapat diwujudkan melalui program-program konkret yang memberikan manfaat bagi civitas akademika kedua perguruan tinggi.
Ketua STIESNU Bengkulu, Dr. Subhan, S.Ag., M.H.I., menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan langkah positif dalam memperluas jejaring kelembagaan sekaligus meningkatkan kualitas dan kapasitas STIESNU Bengkulu melalui kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi dan lembaga pendidikan.
Dengan ditandatanganinya MoU tersebut, STIESNU Bengkulu dan ISIF Cirebon berkomitmen untuk terus membangun kerja sama yang produktif, berkelanjutan, dan berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan tinggi.