Bengkulu – Ketua Pusat Moderasi Beragama STIESNU Bengkulu, Febi Nina Barokah, M.Pd, melakukan wawancara dengan mahasiswa multikultural yang sedang melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di lingkungan kampus STIESNU Bengkulu.
Wawancara ini mengangkat tema “Pengalaman Mahasiswa Multikultural dalam Lingkungan Kampus Berbasis Keislaman: Refleksi Moderasi Beragama di STIESNU Bengkulu”, sebagai bagian dari upaya melihat secara langsung implementasi nilai-nilai toleransi dan moderasi beragama di lingkungan kampus.
Dua mahasiswa yang menjadi narasumber dalam wawancara tersebut adalah Yohanes Adi Prasetya dan Migel Ray Sirait. Keduanya merupakan mahasiswa semester enam Program Studi Informatika dari Universitas Bengkulu (UNIB) yang tengah menjalani praktik lapangan di STIESNU Bengkulu.
Yohanes Adi Prasetya mengungkapkan bahwa STIESNU Bengkulu merupakan kampus berbasis Islam dengan nuansa religius yang kental, terlihat dari latar belakang mahasiswa yang sebagian besar berasal dari kalangan pesantren. Namun demikian, ia menilai bahwa para dosen tetap profesional seperti pada umumnya.
Lebih lanjut, Yohanes menyampaikan bahwa kampus STIESNU Bengkulu telah mencerminkan nilai toleransi beragama dengan baik. Hal ini dibuktikan melalui pengalaman mereka yang diterima secara terbuka meskipun berasal dari latar belakang non-Muslim.
“Selama praktik lapangan, kami diterima dengan baik. Tidak ada perbedaan perlakuan, meskipun kami berasal dari latar belakang yang berbeda,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa sikap saling menghargai terlihat dalam proses diskusi akademik bersama dosen, di mana terjadi pertukaran pendapat dan ilmu secara terbuka.
Kesan berharga yang dirasakan Yohanes selama menjalani praktik lapangan adalah suasana diskusi yang terbuka, baik dalam bimbingan maupun interaksi sehari-hari di lingkungan kampus.
Pengalaman tersebut turut mengubah cara pandangnya terhadap keberagaman. Ia mengakui bahwa sebelumnya perbedaan seringkali menjadi penghalang dalam interaksi, namun di STIESNU Bengkulu, semua berjalan secara harmonis.
Sebagai penutup, Yohanes menyampaikan harapannya agar kampus terus membuka ruang bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang, termasuk non-Muslim, baik dalam kegiatan pendidikan maupun praktik lapangan. Ia juga menyatakan kesediaannya untuk merekomendasikan STIESNU Bengkulu kepada mahasiswa lain.
Sementara itu, narasumber kedua, Migel Ray Sirait, mengungkapkan bahwa pada awalnya ia sempat memiliki kekhawatiran ketika mengetahui bahwa STIESNU Bengkulu merupakan kampus berbasis Islam.
“Awalnya saya berpikir mungkin akan kurang ramah atau sulit menerima mahasiswa non-Muslim. Namun setelah saya jalani, ternyata kampus ini sangat terbuka dan menerima kami dengan baik,” ujarnya.
Miguel menilai bahwa nilai toleransi di STIESNU Bengkulu sangat dijunjung tinggi. Ia mencontohkan, ketika terdapat kegiatan keagamaan seperti kajian rutin di masjid, mahasiswa non-Muslim diberikan kebebasan untuk beristirahat di tempat lain seperti kantin atau perpustakaan.
Selain itu, ia juga mengapresiasi sikap saling menghargai yang ditunjukkan selama bulan Ramadhan. Menurutnya, mahasiswa non-Muslim tetap diperbolehkan makan tanpa rasa sungkan, dengan tetap menjaga sikap saling menghormati.
“Kami tetap diberi ruang dan tidak merasa dikucilkan, justru dihargai,” tambahnya.
Kesan berharga yang dirasakan Migel adalah bagaimana dosen dan mahasiswa menghargai keberadaan mereka, meskipun hanya sebagai mahasiswa praktik lapangan.
Pengalaman tersebut juga memberikan perubahan dalam cara pandangnya terhadap keberagaman. Ia menilai bahwa penghargaan terhadap orang lain harus dimulai dari diri sendiri agar tercipta keharmonisan.
Di akhir wawancara, Migel berharap agar STIESNU Bengkulu terus menjaga nilai toleransi dan meningkatkan solidaritas antar sivitas akademika. Ia pun menyatakan kesediaannya untuk merekomendasikan kampus ini kepada mahasiswa lain, termasuk dari latar belakang non-Muslim.
Melalui wawancara ini, terlihat bahwa praktik moderasi beragama di STIESNU Bengkulu tidak hanya menjadi konsep, tetapi telah diimplementasikan secara nyata dalam kehidupan kampus yang inklusif dan harmonis.